Tangkuban Prahu telah lama menjadi salah satu penanda alam paling kuat di kawasan Lembang. Salah satu gambaran awal yang kaya berasal dari catatan perjalanan tahun 1866. Dalam teks itu, rombongan bergerak dari Lemback menuju gunung melalui jalur hutan, lereng, dan tanah liat yang licin.

Penulis mencatat perubahan vegetasi ketika mendekati kawasan kawah. Hutan yang semula lebat berangsur menjadi lebih jarang. Bau belerang semakin kuat, dan bagian-bagian tanah tampak berbeda dari kawasan berhutan di bawahnya. Dari tepian kawah, rombongan melihat cekungan besar, uap, endapan belerang, dan bagian tanah yang panas.

Yang menarik dari sumber ini adalah cara lanskap dipahami melalui pengalaman tubuh: mata perih, tenggorokan terganggu, sepatu terasa panas, hujan deras, angin, dan perjalanan turun yang licin. Dengan kata lain, Tangkuban Prahu bukan sekadar objek geologi dalam teks tersebut; ia adalah medan yang memaksa para pelancong menyesuaikan diri dengan alam.

Catatan 1866 juga memperlihatkan hubungan antara gunung dan permukiman di bawahnya. Lemback berfungsi sebagai titik singgah dan tempat kembali. Para pengiring, wedana, kuda, serta penduduk setempat menjadi bagian dari perjalanan. Karena itu, sejarah Tangkuban Prahu sebaiknya tidak dilepaskan dari sejarah sosial Lembang dan jalur-jalur lama menuju gunung.