Sebuah majalah guru terbit pada November 1930. Di antara halaman-halamannya, terselip petunjuk yang membawa kita ke Lembang: nama Kweekschool Goenoeng Sari dan keterangan mengenai kehidupan murid perempuannya di asrama. Hari ini bangunan sekolah itu sudah tidak mudah ditunjukkan kepada orang yang melintas. Tetapi dua halaman cetak dari hampir seabad lalu cukup untuk memastikan sesuatu yang penting: pada 1930, sekolah guru bernama Goenoeng Sari telah berada di Lembang.

Penemuan ini mengubah cara kita bercerita. Selama ini kisah Goenoeng Sari mudah ditarik ke satu angka yang sering diulang, 1931, seolah saat itulah sekolah pertama kali datang ke Lembang. Sumber November 1930 menunjukkan bahwa tanggal tersebut tidak dapat dipakai sebagai awal keberadaan sekolah di sini. Jejak sebuah institusi pendidikan ternyata lebih tua daripada perkiraan yang beredar.

Nama yang datang dari Batavia

Untuk memahami sekolah ini, perjalanan harus dimulai lebih jauh ke belakang, di Batavia. Dalam tulisan mengenai pemberantasan buta huruf yang terbit pada 1940, seorang penulis mengenang masa ketika ia bekerja sebagai guru di Kweekschool “Goenoeng Sari” Batavia pada 1921.

Keterangan itu menunjukkan bahwa Goenoeng Sari bukan sekadar nama tempat di Lembang. Sebelum muncul dalam arsip sekolah Lembang, ia sudah digunakan oleh sebuah lembaga pendidikan guru di Batavia. Apakah perubahan lokasi berlangsung dalam satu tahap atau melalui perkembangan kelembagaan yang lebih rumit masih perlu dicari dalam arsip sekolah dan keputusan organisasi pengelolanya.

Yang jelas, kita tidak boleh mengatakan bahwa Goenoeng Sari baru lahir di Lembang. Ada riwayat lebih awal yang menjelaskan mengapa nama tersebut mengikuti sekolah ke kawasan pegunungan.

Apa yang diceritakan majalah tahun 1930?

Aboean Goeroe-Goeroe edisi November 1930, halaman 247–248, merupakan sumber penting karena terbit pada masa keberadaan sekolah, bukan ingatan puluhan tahun kemudian. Di sana disebut Goenoeng Sari di Lembang dan terdapat keterangan mengenai asrama perempuan.

Detail asrama memberi gambaran lebih kaya daripada sekadar lokasi pada peta. Sekolah tidak hanya memerlukan ruang belajar; sebagian murid juga menjalani kehidupan di lingkungan hunian pendidikan. Bagaimana pengaturan harian, siapa para pengasuh, dan bagaimana pengalaman murid perempuan belum dapat kita ceritakan dengan rinci tanpa membaca lebih banyak dokumen. Tetapi keberadaan asrama menunjukkan bahwa Goenoeng Sari memiliki sisi kehidupan siswa yang layak ditelusuri.

Foto kelas, daftar pelajaran, dan korespondensi murid dapat menghidupkan kisah itu lebih jauh. Sampai sumbernya tersedia, kita tidak perlu mengarang percakapan di asrama atau suasana kelas tertentu.

Jejak seorang guru bernama Bongers

Petunjuk lain datang dari sebuah daftar dalam Levende Talen tahun 1932. Pada halaman 141, nama H. Bongers tercatat sebagai guru di Kweekschool Goenoeng Sari, Lembang. Kita memperoleh satu nama dan satu jabatan yang bertemu dengan tempat pada tahun yang pasti.

Bukti seperti ini mungkin tampak sederhana. Tetapi dari nama staf pengajar, penelusuran dapat bergerak menuju buku alamat, laporan sekolah, arsip organisasi guru, dan daftar murid. Bongers memberi wajah administratif pada sekolah yang selama ini lebih sering dibicarakan sebagai bangunan hilang.

Sebuah rujukan lain menyebut E. Wilton Hart pada 1933; keterkaitannya perlu dicocokkan dengan dokumen primer yang relevan sebelum dijelaskan lebih jauh. Untuk sementara, kehadiran Bongers pada 1932 sudah cukup kuat untuk menunjukkan bahwa Goenoeng Sari merupakan institusi yang memiliki tenaga pengajar dan jaringan profesional.

Sekolah guru dan kebutuhan pendidikan

Di Hindia Belanda, kebutuhan guru tidak hanya dipenuhi lembaga pemerintah. Berbagai organisasi swasta membangun sekolah untuk menyiapkan tenaga pengajar. Penelitian sejarah pendidikan mengaitkan Goenoeng Sari dengan jaringan sekolah swasta yang menggunakan istilah neutraal atau netral, dalam konteks kelembagaan yang tidak terikat pada satu gereja tertentu.

Istilah itu harus dipahami menurut konteks pendidikan pada zamannya, bukan dianggap berarti sekolah tanpa gagasan atau nilai. Yang lebih penting bagi kisah Lembang adalah peran Kweekschool sebagai tempat calon guru dibekali pengetahuan dan keterampilan yang kelak mereka bawa ke daerah lain.

Jejak institusi di Batavia bahkan berhubungan dengan kegiatan mengajar orang dewasa yang belum mengenal huruf. Tulisan 1940 mengenang keterlibatan murid Goenoeng Sari pada masa 1921 dalam pengajaran bagi pekerja rumah tangga, pegawai, dan lingkungan sekitar sekolah. Itu bukti mengenai tradisi pendidikan sosial lembaga pada masa Batavia, bukan bukti otomatis bahwa program serupa berlangsung di Lembang dalam bentuk yang sama.

Sekolah yang letaknya masih harus dipastikan

Ingatan lokal dan penelitian lapangan mengarahkan perhatian ke kawasan yang kini berhubungan dengan fasilitas pendidikan dan ketenagakerjaan di Lembang, tidak jauh dari Karmel serta koridor Pasar Panorama. Ada penuturan tentang halaman sekolah dan bangunan yang menghadap arah tertentu.

Petunjuk itu menarik, terlebih karena bangunan lamanya tidak lagi dapat kita datangi sebagai bangunan sekolah kolonial. Namun untuk menandai tapak persis, ingatan perlu dipertemukan dengan peta kadaster, foto udara, rencana bangunan, atau alamat lengkap dalam direktori sezaman.

Ketika sebuah lokasi lama sudah berganti fungsi, wajar jika nama tempat bertahan lebih lama daripada bangunannya. Di Lembang, nama Gunung Sari juga hadir dalam memori sebuah lapangan sepak bola. Hubungan langsung nama lapangan dengan kegiatan sekolah mungkin ada, tetapi sejauh ini masih memerlukan pembuktian silang sebelum disebut sebagai fakta mapan.

Bagaimana nasib bangunannya?

Bangunan Goenoeng Sari disebut telah hilang dalam berbagai penuturan. Sejumlah cerita mengaitkan kerusakannya dengan perubahan situasi perang pada 1940-an, tetapi keterangan waktu dan sebabnya belum seragam. Sebuah tulisan menyebut masa pendudukan Jepang; yang lain menautkan peristiwa pada kekacauan setelah Jepang menyerah.

Perbedaan itu tidak boleh dirapikan secara paksa. Menyatakan tanggal kebakaran atau menyebut pelaku tanpa arsip pendukung akan menciptakan kepastian yang sesungguhnya belum ada. Yang bisa kita nyatakan sekarang ialah bahwa bangunan sekolah lama tidak bertahan, sementara sejarah lembaganya masih hidup dalam dokumen dan ingatan.

Sekolah yang tidak boleh hilang dua kali

Ada banyak cara sebuah tempat menghilang. Bangunannya dapat dibongkar, alamatnya berganti, jalannya berubah, dan orang yang pernah berada di sana satu demi satu tidak lagi bisa ditanya. Kehilangan kedua terjadi ketika kisahnya disederhanakan menjadi satu paragraf tanpa sumber.

Goenoeng Sari masih meninggalkan jejak yang cukup kuat untuk menghindari kehilangan kedua itu: riwayat di Batavia pada 1921, bukti keberadaannya di Lembang pada November 1930, keterangan asrama perempuan, serta nama H. Bongers dalam daftar tahun 1932.

Foto kelas yang tepat, kliping majalah, daftar guru, dan peta tapak kelak dapat memperkaya cerita. Namun masing-masing harus diidentifikasi sampai nomor koleksi serta izin reproduksinya jelas. Foto sekolah lain tidak boleh dipasang hanya karena tampilannya sesuai gambaran kita.

Ketika suatu hari seseorang bertanya di mana Goenoeng Sari berdiri, jawabannya mungkin belum dapat diberikan sampai tingkat meter di peta. Tetapi kini kita sudah bisa mengatakan dengan pasti bahwa sekolah guru itu benar-benar menjadi bagian dari Lembang pada 1930. Di balik namanya ada kisah para murid, guru, serta jaringan pendidikan yang masih menunggu ditelusuri.