Hari ini posisi suatu tempat dapat diketahui dalam hitungan detik melalui GPS. Pada awal abad ke-20, menentukan bujur dengan presisi adalah pekerjaan yang jauh lebih rumit. Observatorium Bosscha di Lembang ikut ambil bagian dalam program internasional penentuan bujur dunia.
Program tersebut dilakukan dengan membandingkan waktu secara presisi antara observatorium-observatorium di berbagai tempat. Sinyal waktu radio menjadi salah satu alat penting. Dengan mengetahui selisih waktu astronomis antara dua lokasi, para astronom dapat menghitung perbedaan bujur.
Bosscha ikut dalam kampanye tahun 1926 dan kembali berpartisipasi pada 1933. Hasil dari dua periode pengukuran menunjukkan bahwa koordinat bujur dapat dihitung dengan ketelitian tinggi untuk zamannya. Proyek semacam ini juga membantu para ilmuwan menguji kestabilan posisi antarbenua dan membandingkan hasil pengukuran dari masa ke masa.
Bagi sejarah Lembang, kisah ini penting karena memperlihatkan bahwa kawasan pegunungan ini bukan hanya tempat perkebunan atau wisata. Pada awal abad ke-20, Lembang sudah terhubung dengan jaringan ilmu pengetahuan internasional. Dari sebuah observatorium di lereng Bandung Utara, para astronom ikut menjawab pertanyaan yang sangat mendasar: di mana tepatnya kita berada di bumi?
Itulah salah satu lapisan sejarah Bosscha yang sering kalah populer dibanding kisah teleskop atau pengamatan bintang. Sebelum orang membawa GPS di saku, Lembang sudah ikut dalam proyek untuk mengukur dunia.
CERITA · 1926 & 1933
Sebelum Ada GPS, Lembang Ikut Mengukur Dunia
Pada 1926 dan 1933, Observatorium Bosscha ikut dalam program internasional penentuan bujur dunia—sebuah proyek besar untuk menyempurnakan posisi geografis sebelum era GPS.