Di sebuah foto perkebunan tahun 1911, arsip mencatat seorang administrator dengan nama yang tampak sederhana: Mr Jansz. Tidak ada nama depan dalam keterangan koleksi itu. Namun bagi orang yang menelusuri sejarah keluarga di Jayagiri, satu nama keluarga tersebut membuka kisah panjang tentang perkebunan kina, hubungan antarkeluarga, dan sebuah kebakaran besar yang diberitakan sampai ke luar Hindia Belanda.
Nama Alexander Jansz kerap dihubungkan dengan pengelolaan Djajagiri. Pertanyaannya bukan sekadar apakah ia pernah berada di sana. Yang lebih penting ialah bagaimana memastikan tokoh dalam ingatan keluarga bertemu dengan orang yang disebut dalam foto, direktori, dan surat kabar pada zamannya.
Perkebunan itu sudah lebih tua
Cerita seseorang akan berbeda apabila kita tahu tempat yang ia kelola telah ada sebelum kedatangannya. Koloniaal Verslag 1878 sudah mencatat onderneming Djajagiri, dengan penanda hak erfpacht yang mengarah pada 30 Januari 1876. Sumber hukum yang dirujuk dalam penelitian juga menyebut pembentukan Kina-Maatschappij Djajagiri melalui akta 12 Mei 1885.
Dua jejak tersebut mendahului periode ketika seorang Jansz teridentifikasi sebagai administrator pada awal abad ke-20. Maka tidak tepat menulis bahwa Alexander membuka Djajagiri dari nol sekitar 1890 tanpa bukti tambahan. Ia mungkin memainkan peranan penting dalam sejarah kebun itu, tetapi harus ditempatkan di dalam perjalanan usaha yang sudah berlangsung.
Perbedaan ini bukan soal mengecilkan tokoh. Justru sejarah seseorang menjadi lebih menarik ketika ia hadir di tengah perusahaan yang telah mempunyai pemilik, struktur pengawasan, pekerja, dan persoalan sendiri.
Selembar foto dan sebuah inisial

Foto KITLV nomor 37361 tahun 1911 menyebut “Mr Jansz” sebagai administrateur Djajagiri. Empat tahun kemudian, Cultuuradresboek voor Indië 1915 mencantumkan “A. Jansz” pada jabatan administrator Djajagiri. Nama berinisial sama juga terhubung dengan Soekatinggi atau Pasir Ipis.
Nama keluarga, inisial, jabatan, dan kawasan itu bertemu dalam periode yang berdekatan. Ditambah penuturan keluarga, identifikasi dengan Alexander Jansz menjadi dugaan yang sangat kuat. Tetapi foto tahun 1911 sendiri belum menuliskan nama “Alexander”.
Dalam penulisan sejarah, kita perlu menerima keadaan semacam ini. Foto dapat menunjukkan seseorang dan jabatannya dengan jelas, tetapi belum menyelesaikan seluruh identitasnya. Bagi caption museum, perbedaan “Mr Jansz” dan “Alexander Jansz” bukan perkara remeh. Pembaca berhak tahu bagian mana yang tertulis di arsip dan bagian mana yang merupakan hasil pencocokan penelitian.
Oktober 1914: ketika api sampai ke Djajagiri
Kabar kebakaran di kawasan Tangkuban Prahu pada Oktober 1914 membawa nama Jansz kembali ke surat kabar. De Preanger-bode edisi 27 Oktober, yang dikutip De Telegraaf pada 8 Desember, memberitakan api yang merambat ke tanaman kina Djajagiri serta sejumlah areal teh.
Administrator “de heer Jansz” disebut terlibat dalam penanganan kebakaran. Ia mengalami kaki terkilir dan demam. Ketika api mendekati kompleks bangunan kebun, ia bersiap meninggalkan lokasi, tetapi bantuan kemudian datang.
Berita tersebut memberikan dua potongan kisah sekaligus. Pertama, seorang administrator perkebunan tidak hanya berada di belakang meja. Ketika api menjalar, ia dapat terlibat langsung dalam keadaan darurat yang mengancam tanaman dan bangunan. Kedua, laporan itu memastikan seorang Jansz masih hidup selama rangkaian peristiwa yang diberitakan.
Karena itu cerita bahwa Jansz tewas dalam kebakaran Djajagiri 1914 tidak didukung oleh laporan ini. Jika ada kisah kematian lain dalam ingatan keluarga, tanggal dan orangnya harus diperiksa terpisah, bukan ditempelkan pada berita yang tersedia.
Mengapa nama seorang administrator muncul dalam banyak tempat?
Direktori 1915 menghubungkan A. Jansz dengan Djajagiri dan Soekatinggi/Pasir Ipis. Berita kebakaran juga menyinggung Soekatinggi sebagai kawasan terdampak. Hubungan tersebut membuka kemungkinan bahwa tugas atau jaringan pekerjaannya melibatkan lebih dari satu perkebunan.
Tetapi kesamaan administrator tidak otomatis berarti dua estate merupakan satu badan hukum. Perusahaan, pengelolaan lapangan, dan kepemilikan tanah merupakan persoalan yang berbeda. Untuk memahaminya, kita membutuhkan peta perkebunan, direktori dari beberapa tahun, dan akta perusahaan.
Laporan kebakaran sendiri menyebut Djajagiri sedang dalam proses likuidasi. Itu petunjuk bahwa perkebunan berada dalam masa perubahan ketika peristiwa berlangsung. Namun frasa di koran belum memberi tanggal resmi pembubaran perusahaan.
Bagi biografi Alexander, perubahan usaha seperti ini dapat penting. Akan tetapi, menyusun karier lengkapnya dari satu artikel kebakaran saja akan menghasilkan kisah yang terlalu pasti.
Satu potret, tiga nama dari keluarga
Di antara berkas yang disampaikan Anton Jansz ada sebuah foto studio: seorang laki-laki berdiri di samping seorang anak, sementara seorang perempuan duduk di sisi kanan. Potret itu tidak membawa keterangan tahun, nama studio, ataupun identitas tercetak pada permukaan foto yang tersedia. Namun dalam percakapan pada 19 September 2026, Anton memperkenalkannya sebagai foto Alexander Jansz, Albert Jansz, dan Nyi Emes.

Foto seperti ini menghadirkan sisi yang nyaris tak terlihat dalam laporan perusahaan. Di dokumen perkebunan kita membaca jabatan dan luas kebun. Di foto keluarga, kita melihat bagaimana orang-orang yang berkaitan dengan cerita itu ingin dikenang. Nilainya bukan sebagai pengganti arsip perusahaan, melainkan sebagai kesaksian lain yang datang dari keluarga sendiri.
Anton tidak meminta supaya seluruh cerita keluarganya ditelan sebagai kebenaran final. Dalam wawancara ia juga terus berbagi foto dan bertanya mengenai hubungan antarnama yang belum jelas. Sikap itu penting: keluarga menyimpan ingatan, sementara dokumen sezaman membantu menguji di mana ingatan tersebut bertemu atau berbeda dengan catatan tertulis.

